Bolehkah Wanita Safar Tanpa Di Dampingi Mahrom?

Bolehkah Wanita Safar Tanpa Di Dampingi Mahrom?

Pertanyaan :

Assalamu’alaykum wa rahmatullahi wabarakatuh

Ustadz saya ingin menanyakan mengenai  safar. Bagaimanakah hukumnya  wanita safar tanpa mahramnya misalnya safar menggunakan pesawat ( Jakarta – Surabaya)

Bolehkah wanita safar tanpa mahram tapi ikut rombongan.  Misalnya Rihlah bersama ke bandung dgn rombongan taklim

Syukron ustadz

 

Jawaban :

Wa’alaikum salam warohmatulloh wabarokatuh

Para ulama’ berselisih pendapat tentang safar wanita tanpa mahrom :

 

  • | Mereka yang berpendapat tidak boleh ( Safar wanita tanpa mahrom ) berdalil dengan riwayat-riwayat berikut diantaranya :

 

Dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Janganlah seorang wanita safar sejauh tiga hari (perjalanan) melainkan bersama dengan mahramnya”.

[HSR. Imam Bukhari (1087), Muslim (hal. 970) dan Ahmad II/13; 19; 142-143; 182 dan Abu Daud]

 

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata : Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Tidak halal (boleh) bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir safar sejauh sehari semalam (perjalanan) dengan tanpa mahram (yang menyertainya)”.[HR. Imam Bukhari (Fathul Baari II/566), Muslim (hal. 487) dan Ahmad II/437; 445; 493 dan506]

 

  • | Adapun bagi mereka yang membolehkan hujjahnya adalah :

 

Hadist Adi bin Hatim, bahwa Nabi shollallahu alahi wassalam bersabda : “Seandainya kamu diberi umur panjang, kamu pasti akan melihat seorang wanita yang mengendarai kendaraan berjalan dari Al Hirah hingga melakukan thawaf di Ka’bah tanpa takut kepada siapapun kecuali kepada Allah”. (HR. Bukhari)

 

Hadist di atas berisi tentang pujian dan sanjungan pada suatu perbuatan, hal itu menunjukkan kebolehan. Sebaliknya hadist yang mengandung celaan  kepada suatu perbuatan menunjukkan keharaman perbuatan tersebut. (Umdatu al-Qari : 16 /148)

 

Kaidah Fiqhiyah

“Hukum yang ditetapkan dengan ijtihad bisa berubah menurut perubahan waktu, keadaan, tempat dan perorangan.“

 

Berdasarkan kaidah di atas , sebagian ulama kontemporer seperti Syekh Abdurrozaq Afifi (Fatawa wa Rasail: 1/201) membolehkan seorang wanita bepergian sendiri atau bersama beberapa temannya yang bisa dipercaya dengan naik pesawat, diantar oleh mahramnya ketika pergi dan dijemput juga ketika datang.  Bahkan keadaan seperti ini jauh lebih aman dibanding jika seorang wanita berjalan sendiri di dalam kota, khususnya kota-kota besar.

 

Walau demikian adanya khilaf dikalangan para ulama’ namun sebaiknya para wanita tetap lebih baik mengambil jalan ihtiyath ( kehati-hatian ) dalam bertindak dengan tetap menghargai adanya perbedaan dalam ijtihad.

 

Wallahu a’lam.

 

Dijawab oleh : Ustadz Oemar Mita Lc.

Referensi : Group WhatsApp Syameela

 

====================

☝SYAMEELA : Deliver The Truth Of Islam

Ajak Keluarga & Sahabat Bergabung :

?Telegram Channel : @Oemita_Syameela ▶ KLIK : https://goo.gl/tnoGcI

? Grup WA :

?08111000196 (ikhwan)

?0811188734   (akhwat)

?Website :

www.syameela.com

====================

 

About admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *