Kapan Lailatul Qadar datang?

Kapan Lailatul Qadar itu datang? – MenurutIslam.com

Sebelum kita membahas waktu datangnya lailatul qadar, sungguh alangkah baiknya kita membahas dahulu tentang pengertian dan keistimewaan.

Apa itu Lailatul Qadar?

Istilah “lailatul qadar” terdiri dari dua kata “lailah” yang artinya malam, dan “qadr” yang artinya kemuliaan. Jika digabungkan maka akan memiliki arti ‘malam kemuliaan’. Oleh sebab itu kita tidak seharusnya menyebut dengan ‘malam lailatul qadar’ karena akan menyebabkan arti pengulangan malam sehingga artinya “malam-malam kemuliaan”. Lebih tepatnya disebut “malam qadar” atau “lailatul qadar”.

 

Apa keistimewaan Lailatul Qadar?

Lailatul Qadar merupakan malam yang lebih baik daripada seribu bulan atau setara dengan 83 tahun dan 4 bulan. Seperti yang Allah Subhanallahu Wata’ala sebutkan dalam Surat Qadar ayat 2-3. Allah Subhanallahu Wata’ala berfirman,

وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ. لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

“Tahukah kamu apa itu lailatul qadar? Lailatul qadar lebih baik daripada seribu bulan.” (Q.s.Al-Qadar:2–3)

 

Kapan Lailatul Qadar tiba?

Kita sebagai umat muslim diperintahkan untuk mencari malam lailatul qadar di sepuluh malam terakhir bulan Ramdhan. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda ,

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

“Carilah lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari no. 2020 dan Muslim no. 1169)

Ada juga riwayat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam yang menyebutkan bahwa malam lailatul qadar jatuh pada malam ganjil pada sepuluh malam terakhir. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

“Carilah lailatul qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari no. 2017)

Ganjil bisa berarti dihitung dari awal bulan, mala malam yang dicari adalah malam ke-21,23,25,27,29. Tetapi bisa jadi pula lailatul qadar dihitung dari malam yang tersisa. Dalam hadist lain disebutkan,

لِتَاسِعَةٍ تَبْقَى لِسَابِعَةٍ تَبْقَى لِخَامِسَةٍ تَبْقَى لِثَالِثَةٍ تَبْقَى

 

“Bisa jadi lailatul qadar ada pada sembilan hari yang tersisa, bisa jadi ada pada tujuh hari yang tersisa, bisa jadi pula pada lima hari yang tersisa, bisa juga pada tiga hari yang tersisa” (HR. Bukhari)

Oleh karena itu, jika bulan Ramadhan ternyata 30 hari, maka malam ketiga puluh adalah malam menggenapi. Jika dihitung dari berakhirnya ramadhan (30) berarti Sembilan hari tersisa adalah malam ke-22, tujuh hari tersisa adalah malam ke-24, dst. Inilah yang di tafsirkan oleh Abu Sa’id Al Khudri. Yang dilakukan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengencangkan ibadah yang dilakukan tidak memandang malam ganjil ataupun genap. Allahu’alam

 

Penulis : Riza Maulana Ardiyanto
Untuk : MenurutIslam.com
Referensi :

https://rumaysho.com/11333-tanda-seseorang-mendapatkan-lailatul-qadar.html

Serba-Serbi Lailatul Qadar


About admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *